Living In America, Pinjam DVD Via Pos

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Yang membuat menjadi menyenangkan dan bergairah bukan hanya karena film – film top box office yang makin hebat dan seru. Tapi justru experience atau pengalaman bertransaksi pinjam meminjam film itu yang membuat masyarakat Amerika sekarang makin keranjingan nonton DVD.

Beberapa tahun yang lalu, bisnis rental DVD yang bernama Netflix, yang mengandalkan sistem peminjaman DVD dikirim via pos, membuat gebrakan dan sukses luar biasa. Habit baru menikmati film – film top box office via DVD dengan sistem pre-paid untuk kurun waktu tertentu dan mendaftarkan film – film ke dalam wish list sebanyak yang mereka mampu tonton tanpa harus mengunjungi toko penyewaan, benar – benar membuat orang Amerika menghabiskan waktu lebih banyak di depan TV dan DVD player mereka.

Tak heran, terobosan bisnis Netflix yang juga disoroti oleh Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail, mampu menggoyahkan raksasa bisnis penyewaan film Blockbuster, bisnis penyewaan film yang mengandalkan chain store mereka yang tersebar di seluruh Amerika. Efisiensi dari ketiadaan jaringan toko secara fisik, dimanfaatkan oleh Netflix. Memanfaatkan jaringan internet dan pelayanan pos, Netflix secara jitu dengan menawarkan berbagai kenyamanan dan penghematan biaya sewa kepada para pelanggannya secara sangat atraktif. 1- 0 untuk Netflix.

Namun, apa yang terjadi saat ini sangat menarik dan mengagumkan buat saya. Blockbuster kemudian strike back dan memukul Netflix justru kembali dengan mengandalkan jaringan toko yang tesebar luas. Kali ini, janji kenyamanan yang ditawarkan adalah, pelanggan tidak perlu menunggu DVD yang diinginkan tiba melalui pos, setelah mengirimkan kembali film yang sudah selesai anda tonton. Tetapi mereka bisa mengembalikannya ke toko Blockbuster terdekat manapun, langsung setelah mereka selesai melihat film tersebut, untuk kemudian secara otomatis hari berikutnya, film berikutnya yang ada dalam wish list mereka tiba di rumah via pos. Sehingga, dalam kurun waktu tertentu, dengan biaya pre-paid yang sama, mereka memiliki kesempatan meminjam DVD lebih banyak dibandingkan Netflix. Sebagai akibat efisiensi waktu yang terjadi dari pengembalian kembali DVD yang sudah selesai ditonton.

Masyarakat Amerika pun tergiur, mereka sibuk membicarakan dan membandingkan keunggulan Netflix versus Blockbuster. Dan sesuai perkiraan, merekapun kembali berbondong – bondong menjadi pelanggan Blockbuster, dan memadukan habit antara mendapatkan DVD via pos dan mengembalikan DVD ke toko rental. Skor jadi 1-1 untuk Blockbuster dan Netflix.

Luar biasa. Dengan mengandalkan teknologi dan management penjualan dan pelanggan yang rapi, jaringan toko Blockbuster dapat online, layaknya ATM. Sehingga apa yang semula menjadi penghalang efisiensi kembali menjadi senjata andalan dalam menawarkan bisnis model yang kompetitif. Semua orang sedang menunggu langkah inovatif apalagi yang akan dilancarkan oleh Netflix, atau mereka akan perlahan – perlahan mengecil dan tersingkir dari arena pertempuran bisnis penyewaan DVD ini.

Kita harus dapat belajar dan memetik pelajaran yang terkandung dari perang Netflix dan Blockbuster ini. Bagaimana berpikir out of the box dan keluar dari tekanan pesaing, untuk kembali menguasai pangsa pasar yang terenggut secara tiba – tiba. Memanfaatkan apa yang kita miliki saat ini, dan tentu saja kemajuan teknologi yang tepat guna dan tepat sasaran.

Sungguh menarik mendengar mereka bilang, “mau ambil mail dulu di mailbox, mungkin flim Blockbuster hari ini datang”. Film dalam mailbox bukan lagi kejadian di email, tapi juga di kotak pos beneran yang keras dan terbuat dari besi itu.

Menciptakan Kerumunan Maya

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Ketika jaringan raksasa Myspace – yang menghubungkan jutaan simpul, yaitu para pengguna internet, dan YouTube – menghubungkan jutaan simpul berupa video klip – dihargai ratusan juta bahkan milyaran dolar beberapa waktu yang lalu, semua orang terhenyak menyadari potensi tak terhingga yang dikandung dari sebuah jaringan sosial.

Kalau kemudian orang berbondong menyediakan media dan sarana dalam upaya menciptakan kerumunan maya – yang tentu saja kemudian diharapkan dapat dihargai tinggi – toh bukan perkara mudah. Semua percaya, ketika ada kerumunan masa, apapun memang bisa terjadi. Malah, dalam banyak hal tak mudah menduga kemana dan apa yang masa sukai atau apa yang mereka inginkan.

Menciptakan daya tarik yang mengundang banyak orang untuk bergabung adalah yang utama. Tak cuma sekedar berkunjung atau melihat, namun juga berpartisipasi dan berkontribusi. Hingga terciptalah sebuah komunitas dengan kesamaan minat atau karakter yang saling merekatkan satu dengan yang lain. Hebatnya lagi, tak ada imbalan langsung untuk sebuah kontribusi. Tantangan berikutnya adalah, menciptakan situasi nyaman dan bergairah, supaya komunitas ini tidak menyusut, malah semakin berkembang.

Sebuah jaringan sosial dinilai dari apa yang terkandung di dalamnya. Jumlah anggota komunitas sebagai simpul yang saling terhubung adalah ukuran fisik untuk mengukur besarnya jaringan. Ada padanan langsung antara ukuran fisik dan nilai yang terkandung. Walaupun besar kecil nilai juga memiliki parameternya sendiri, namun semakin besar sebuah jaringan, terbuka peluang semakin besar pula nilai ekonomis yang terkandung.

Yang dihasilkan dari aktivitas kerumunan maya inilah yang bernilai. Dapat berupa informasi, pengetahuan atau bahkan sebuah kultur sosialisasi dan interaksi. Setiap anggota komunitas dalam jaringan adalah pelaku. Pelaku yang menciptakan, mengelola dan memiliki konten.

Sebagai penyedia jaringan, tugas utama adalah menyelenggarakan sebuah jaringan sosial yang memfasilitasi bukan membatasi. Semudah menciptakan konten, anggota komunitas juga perlu fasilitas untuk mudah mengkonsumsinya sesuai kebutuhan dan keinginan mereka, dengan cara mereka. Bukan cara pengelola jaringan. Oleh karena itu, kata kunci di sini adalah sebuah sikap mental saling percaya atau TRUST, antara sesama anggota komunitas, dan antara anggota dan penyelenggara jaringan.

Selamat mengembangkan jaringan sosial.

Melebarkan Jaringan

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Masih soal melebarkan jaringan relasi yang kita miliki. Sekarang ini, asal kita mau saja, kesempatan untuk melebarkan jaringan kita menjadi sangat mudah. Apalagi kalau bukan internet yang memungkinkannya. Mulai dari yang paling sederhana, bergabung di milis dengan fokus dan minat suatu hal tertentu, mengunjungi dan memberikan tanggapan atas blog orang – orang yang rajin nulis blog, hingga memiliki dan mengelola blog sendiri. Semuanya memungkinkan kita untuk melebarkan jaringan di mana kita menjadi bagian di dalamnya.

Yang luar biasa dari internet saat ini adalah, segala hal yang kita ingin lakukan bisa kita lakukan dengan mudah. Tidak masalah apakah kita adalah orang yang hanya suka mengamati dan menikmati berbagai kemeriahan dan kegaduhan sekeliling kita, hanya suka ngomentarin. Atau mungkin kita adalah orang yang suka opini dan pemikirannya diperhatikan, atau kita memiliki obsesi untuk mengubah dunia. Atau sekedar menunjukkan talenta dan selera yang kita miliki. Tidak masalah, semuanya terfasilitasi. Asal kita mau, saja.

Inilah yang kemudian menjadi basis dari sebuah komunitas online (saya tidak suka menyebut komunitas maya, karena komunitasnya sendiri adalah nyata, hanya medianya saja yang maya). Interaksi antar manusia lintas batas geografis, lintas demografis, telah membentuk jaringan super raksasa di dunia. Yang membedakan dengan generasi komunitas online sebelumnya adalah, kini orang – orang yang tergabung menjadi simpul – simpul di dalam jaringan ini adalah pelaku utama dari interaksi yang tercipta. Sebelumnya, sebagai pengguna internet, kita lebih sebagai target atau obyek untuk mengkonsumsi berbagai informasi, produk dan jasa yang ditawarkan. Artinya, pelaku utama adalah mereka yang memiliki informasi, produk dan jasa tersebut saja. Mereka yang menciptakan trend, mereka yang menciptakan demand dan secara tidak kita sadari, merekalah yang membentuk “gaya hidup” online.

Sekarang, situasi sudah berubah. Pelaku utama kehidupan online adalah kita semua yang terhubung dengan teknologi internet ini. Jadi, tunggu apa lagi, ayo ikut mengubah dunia. Mulai dengan dunia online, untuk kemudian mengubah dunia yang sesungguhnya, yang kita diami.

Wikimu Dan Jurnalisme Publik

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Dalam beberapa kesempatan, saya menemukan artikel di beberapa media dan blog nasional yang membahas mengenai jurnalisme publik atau lebih dikenal dengan Citizen Journalism. Dan hampir semua artikel itu menulis Wikimu.com ketika menyebut contoh situs jurnalisme publik ala Indonesia.

Apakah model Wikimu.com ini adalah contoh ideal dari fenomena jurnalisme publik yang sekarang sedang berkembang ? Memang, kalau semata dilihat dari format relasi yang terjalin antara para jurnalis dengan Wikimu.com sebagai medianya, makan jelas bahwa para jurnalis Wikimu.com adalah publik atau masyarakat umum pengguna internet yang tidak terikat secara profesi maupun ikatan formal lainnya, sehingga dapatlah dikategorikan sebagai sebuah jurnalisme publik.

Dengan karakteristik jurnalis yang tidak terikat secara profesi dengan medianya, dipahami bahwa tanggung jawab moral dan etika dari kegiatan pewartaan itu, secara implisit kemudian juga beralih ke publik. Dalam arti, publik – baik sebagai kontributor maupun sebagai konsumen informasi – sama – sama ikut bertanggung jawab atas informasi yang terpublikasi, sekaligus bertanggung jawab atas pilihan informasi yang dikonsumsi.

Jurnalisme publik, definisinya sendiri beragam. Batasan dari varian terbaru paham jurnalisme ini tidak semata dibedakan dari status hubungan antara jurnalis dengan medianya saja. Penerapan asas jurnalismenya sendiri mempunyai rentang alternatif cukup lebar. Mulai dari penganut ekstrim liberal yang memberikan kebebasan seluas – luasnya kepada para kontributor tanpa batasan apapun untuk menyampaikan informasi apapun. Hingga yang paling aman terkendali, yaitu melalui proses seleksi jurnalis yang dianggap pas dan sesuai oleh media yang bersangkutan – meskipun tetap berasal dari publik, dan menjadi satu kelompok yang secara khusus dibina untuk menjadi kontributor media mereka.

Di antara kedua ekstrem tersebut, masih banyak varian lain dari model jurnalisme publik. Intinya, sumber dari warta atau informasi adalah berasal dari masyarakat luas atau publik. Untuk menciptakan sebuah lingkungan informasi bermutu, tentu diperlukan rambu – rambu yang perlu ditaati oleh setiap anggota komunitas. Tidak ada yang dapat menjamin semua akan patuh dan taat atas rambu – rambu yang ada. Namun, penerimaan eksistensi seorang anggota dalam komunitas itu sendiri, telah menjadi sebuah proses seleksi awal atas saringan informasi yang bermutu. Lagi – lagi, publik bertanggung jawab atas informasi yang dikonsumsinya.

Memang, sebuah paradigma baru yang belum tentu mudah untuk diterima semua pihak. Belajar dari apa yang berkembang di komunitas Wikimu.com, sebuah proses yang mengagumkan harus saya akui. Proses pertemuan buah – buah pikiran dari sekumpulan intelektual yang kemudian berinteraksi dan saling mengisi, benar – benar menggairahkan. Situasi yang bahkan melebihi dari apa yang dibayangkan saat awal komunitas ini tergagas.

Soal Tagging Lagi, Bahkan Search Engine Pun, Tak Banyak Membantu

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Dalam komunitas apapun, dengan intensitas interaksi yang tinggi di antara para anggotanya, kebutuhan untuk pencarian informasi, dalam format dokumen, email dan file  lainnya tak diragukan akan sangat tinggi. Tak terkecuali dalam jaringan intranet atau corporate portal.

Penggunaan search engine yang berkemampuan tinggi, dengan pemrograman berlogika algoritma canggih sering kali menjadi tumpuan dalam membangun komunikasi dan pengelolaan knowledge management yang efektif. Namun, pencarian berdasarkan analisa  full text – seluruh kata – yang ada dalam satu dokumen menggunakan logika pemrograman, tetaplah tidak dapat mengalahkan kemampuan logika manusia dalam merunut proses pencarian berdasarkan pengelompokan kategori yang paling sesuai menuju target informasi yang diinginkan.

Jangan gusar kalau seandainya search engine memberikan kita dokumen tentang hewan “Turkey” (kalkun) sebagai akibat dari logika pemrograman search engine, padahal yang kita butuhkan adalah informasi tentang negara Turki. Bandingkan hasilnya seandainya kita merunut proses pencarian dengan navigasi kategori, di mulai dari kategori benua, nama negara, dan urutan abjad pertama dari negara tersebut.

Tantangannya adalah, siapa yang harus membuat kategorisasi ? pendekatan apa yang diambil dalam menentukan jenjang kategori yang akan digunakan ? Sama sekali bukan perkara mudah. Anda mungkin perlu seorang librarian atau ahli perpustakaan dalam merumuskan hal ini. Hal yang biasa dikenal dengan nama Taxonomy.

Yang paling ideal menentukan di kategori apa dan tingkat berapa sebuah informasi itu tepat berada adalah si penulis dokumen itu sendiri. Tanpa perlu memikirkan bagaimana kategori itu harus berjenjang atau pilihan induk kategori apa saja yang tersedia, penulis harus memiliki kebebasan untuk langsung menentukan sebuah kategori yang dianggapnya pas atas dokumen yang dimilikinya.

Karena, pada akhirnya logika manusia dengan beragam kesamaan dan komunalitas di antara sesama anggota komunitas, itulah search engine yang paling ampuh dalam menentukan sebuah informasi. Bukan seorang ahli perpustakaan, bukan alogritma rumit nan canggih. Tetapi berdasarkan kesamaan minat dan karakteristik individu – individu dalam komunitas, proses berpikir manusia menjadi lebih mudah ditebak. Dan itulah pendekatan “Folksonomy” (dari kata Folks yang berarti orang – orang, individu) yang semakin populer di era Web 2.0

Apa Sebutan Untuk Kita, Saya dan Anda ? Prosumer

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Sejak diperkenalkan pertama kali oleh futurist Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave beberapa waktu silam, istilah prosumer kembali populer akhir – akhir ini. Prosumer merupakan perpaduan istilah producer (atau produsen) dan consumer (atau konsumen).

Bukan sekedar menganalogikan pada masa sebelum terciptanya uang sebagai alat tukar. Istilah prosumer abad ini lebih banyak menekankan pada keleluasaan umat manusia dalam menciptakan sendiri – atau bersama – sama dengan orang lain – produk yang ingin dikonsumsinya hingga tingkat kepuasan tertentu yang diharapkan.

Dalam beberapa bentuk kegiatan dalam kehidupan manusia, batas pemisah antara kelompok produsen dan konsumen semakin menipis. Bahkan telah menyatu. Ketika secara kolektif orang menciptakan bahasa pemrograman komputer, kelompok orang yang sama pula yang kemudian memanfaatkan bahasa pemrograman tersebut untuk menghasilkan program – program komputer baru. Perkembangan program komputer berbasis open source seperti Linux, memang menjadi salah satu akselerator dari tumbuhnya fenomena peer production – atau produksi bersama di dalam sebuah kelompok komunitas.

Ketika secara kolektif orang berkontribusi menambahkan berbagai informasi menjadi sebuah ensiklopedia raksasa Wikipedia, disadari atau tidak adalah juga sebuah upaya menghasilkan informasi yang lengkap dan handal yang kelak akan dikonsumsi kembali oleh mereka.

Ada masa di mana, apa yang kita baca, lihat dan dengar, apa yang “bagus dan jelek”, apa yang “berguna dan tidak” dari sebuah informasi yang disajikan oleh media, ditentukan sepihak oleh para pihak penyelenggara media tersebut. Sekarang, sebagai konsumen kita juga bisa bertindak sebagai produsen (berfungsi sebagai editor misalnya) atas informasi yang kita harapkan sampai di mata dan telinga kita. Kita bisa memilih, menyaring dan mengelompokkannya sesuai dengan keinginan tiap – tiap orang.

Fenomena prosuming ini juga membuktikan bahwa ternyata ada mekanisme di mana, kumpulan minat dan kompetensi yang dimiliki banyak orang terseleksi secara alami dan kemudian menghasilkan karya – karya hebat. Bayangkan, mana yang akan lebih menghasilkan, penugasan atas dasar penilaian kompetensi dari seorang atasan pada bawahan, atau penilaian minat dan kompetensi dari diri orang itu sendiri.

Dan yang paling luar biasa tentu saja, bahwa ternyata manusia di berbagai belahan bumi ini, mampu dan mau berkarya. secara sukarela. Dalam banyak hal, tanpa imbal balik ekonomis langsung, mereka tetap berlomba – lomba, bahu membahu berproduksi dan menghasilkan produk – produk hebat.

Mari menjadi prosumer yang hebat, mulailah sebagai prosumer di www.wikimu.com
Foto source : http://homes.ourproject.org/
Dari kumpulan pemikiran tentang Web 2.0 di http://www.adriantogani.com

Enterprise Going Web 2.0!

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

“MySpace-style virtual communities are coming to the enterprise” (Alfred Chuang – BEA Systems, founder, chairman and CEO)

Dari hari ke hari, keyakinan bahwa fenomena Web2.0 akan memasuki era kematangan, yang ditandai dengan pemanfaatannya pada enterprise application semakin berhembus kencang.

Kali ini datang dari jagoan middleware BEA Systems. Sedang terjadi pembicaraan serius antara BEA Systems dengan Google, untuk menjalin partnership di antara mereka berdua. Inisiatif yang sedang digagas ini memungkinkan perusahaan atau organisasi membuat mashup yang mengintegrasikan enterprise portal yang dibangun menggunakan WebLogic dengan aplikasi – aplikasi Google yang ada, semisal Google Maps. Hal yang menjadi mungkin karena Google akan membuka beberapa API (Application Programming Interface) nya yang selama ini ditutup (hidden) kepada BEA.

Kebalikannya, akan dimungkinkan juga, beberapa aplikasi yang dimanage dan dijalankan di atas server BEA WebLogic Portal untuk diekspose ke luar portal framework dan kemudian diintegrasikan dengan Web2.0 front end application.

Bahkan konon kabarnya, BEA pun sedang mengadakan pembicaraan dengan Yahoo untuk kerjasama serupa. Ini benar – benar berita menarik buat saya. Setelah inisiatif salesforce.com dengan appexchange nya, apa yang digagas oleh BEA Systems ini bisa jadi milestone berikutnya dalam hal enterprise go Web2.0

Mari kita sambut dengan penuh antusias era baru membangun aplikasi enterprise!

AJAX Dan Program Komputer Yang Bernama Internet Browser

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Tahun 1997, saya pertama kali berkenalan dengan teknologi server side scripting dari Microsoft (ASP). Ketika itu terbayang suatu saat kelak, di atas software kecil yang bernama internet browser ini, kita dapat menjalankan aplikasi apa saja seperti kita menjalankan aplikasi yang dijalankan di atas desktop.

Dan sekarang, kira – kira 10 tahun kemudian, kita menyaksikan betapa internet browser ini menjadi “must have” program yang, at least, wajib ada dalam sebuah komputer, bahkan dalam sebuah thin client computer sekalipun.

Bukan sekedar untuk browsing internet dan melihat content yang disajikan secara satu arah. Tapi sekarang, internet browser digunakan untuk menjalankan aplikasi – aplikasi yang dibangun terdedikasi untuk dijalankan di atasnya.

Tak heran kemudian, client side scripting terus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Diwakili oleh JavaScript sebagai bahasa pemrogramannya yang paling populer, tujuan dikembangkannya teknologi ini tak lain tak bukan untuk memberikan user experience yang tak kalah menariknya seperti ketika user menjalankan program aplikasi desktop.

Teknologi AJAX (Asynchronous JavaScript And XML) yang saat ini ramai dibicarakan dan diimplementasikan, adalah contoh dari perkembangan mutakhir apa yang bisa dihasilkan dari pemrograman client side. Teknologi ini dikembangkan memang untuk memanjakan pengguna aplikasi berbasis web :

Mendapatkan richness dan interactivity user experience dari aplikasi web, seperti layaknya berkomputer dengan desktop. Dan, meminimalkan keterhubungan yang intensif dan terus menerus dengan web server sebagai penyaji data dan content dari aplikasi tersebut.

Jaringan Sosial (Social Networking)

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Memiliki jaringan / network yang luas merupakan keadaan ideal yang diinginkan semua orang. Network yang dimaksud adalah rangkaian hubungan / relasi dengan berbagai kalangan dan orang yang menjadikan kita bagian dari suatu komunitas.

Banyak orang tidak menyadari, bahwa jaringan yang luas, yang menempatkan diri mereka menjadi salah satu bagian di dalamnya adalah sebuah aset yang sangat berharga. Sama berharganya dengan aset – aset kita yang lain yang sangat kita jaga, kita kembangkan dan kita banggakan. Banyak orang merasa, jaringan relasi yang mereka miliki hari ini adalah sesuatu yang sifatnya seperti nasib. Apa yang mereka dapatkan sekarang, adalah sesuatu yang sudah digariskan atau ditakdirkan. Hanya teman – teman mereka yang sekarang inilah yang bisa mereka mintakan tolong. Hanya kenalan – kenalan mereka yang sekarang inilah yang bisa ditawarkan untuk menggunakan produk dan jasa yang mereka jual. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Inilah yang sering kita dengar : “Saya tidak cocok menjadi agen penjualan asuransi, soalnya saya tidak punya kenalan atau teman yang kaya”,”Coba kalau saya bekerja di perusahaan multi nasional, saya pasti punya teman – teman yang wawasannya luas”; “Saya tidak mungkin bisa diterima bekerja di perusahaan itu, soalnya cuma kalangan tertentu saja yang bisa bekerja di situ”, “Terang aja, mereka kan lulusan luar negeri makanya temannya banyak”. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Pernahkah mereka berpikir, mereka sendirilah sebenernya yang menentukan di jaringan mana saja mereka bisa berada. Merekalah yang menentukan seberapa luas jaringan yang bisa mengikutsertakan mereka. Mungkin tidak banyak yang pernah. Karena, mereka sudah menciptakan sendiri “area – area kenyamanan” yang kemudian dipertahankan dan dijadikan sendiri oleh mereka sebagai pagar – pagar yang kemudian dijadikan lagi sebagai alasan kegagalan demi kegagalan yang mereka hadapi.

Kenapa “area kenyamanan” ? karena di situ tidak ada tuntutan sok akrab, sok kenal. Di situ tidak ada resiko dicuekin orang – orang yang tidak mereka kenal. Di situ tidak ada resiko mereka terlihat culun dan tidak mengerti orang lagi pada ngomongin apa. Di situ tidak perlu “jaim”, bisa ngomong apa saja dan bertingkah seenaknya. Nyaman bukan ? Karena, mereka berada di tengah – tengah orang – orang yang sudah mengenal mereka.

Padahal, kalau kita mau sedikit saja tidak nyaman sebentar di tengah orang – orang yang baru kita kenal, kita bersedia sedikit saja tidak disapa atau ditegur orang, kita mau sedikit saja sok kenal sok akrab. Jaringan relasi yang begitu luas terbentang yang melibatkan kita di dalamnya dan menjadikan kita sebagai bagian darinya.

Selanjutnya, bayangkan kita punya pilihan yang sangat banyak untuk bisa menjadi apa, menjual apa, dan mengenal siapa.

Berbagi Cerita Tentang Social Networking dan User Generated Content

In CategoryUncategorized
ByAdrianto

Jumat, 8 Juni 2007 sore, bertempat di IDC Cyber Building, Jakarta, kembali digelar acara Pengajian Dotcommers yang ke-6. Acara yang diasuh oleh Nukman Luthfie (seorang pelaku bisnis TI yang sudah malang melintang di dunia TI Indonesia) ini memang sudah berlangsung beberapa kali di beberapa kota.

Dalam acara sore ini, kebetulan saya berkesempatan membawakan tema Social Networking atau Jejaring Sosial dalam wadah internet. Poin pertama adalah mengenai situs – situs yang menghubungkan begitu banyak pengguna Internet di dunia, yang sudah sangat kondang seperti MySpace.com dan www.43things.com

Dalam pembahasan MySpace.com contoh yang diangkat adalah mengenai cerita sukses komunitas Burrito Project yang kemudian berkembang hingga melahirkan komunitas – komunitas aksi sosial serupa di beberapa negara bagian Amerika maupun di negara – negara lain. Topik lain adalah, MyState of The Union, sebuah ajang kontes pidato yang diadakan untuk mengiringi pelaksanaan pidato kenegaraan awal tahun presiden Amerika Serikat yang terkenal dengan nama State of The Union.

Selain MySpace.com yang juga saya angkat sebagai contoh dari situs Social Networking adalah www.43things.com. Yang merangkum dan mengolah berbagai data dan opini dari orang – orang yang bertekad untuk melaksanakan sesuatu hal. Serta sebuah situs social networking yang beralamat di www.outside.in tempat ngerumpi warga di suatu area atau neighborhood di Amerika Serikat.

Topik berikutnya adalah mengenai The Wisdom of Crowds, paham partisipasi publik yang kemudian banyak diadopsi oleh berbagai bisnis yang berbasis opini masyarakat. Diinsipari dari buku dengan judul sama yang ditulis oleh James Surowiecki, opini kolektif masyarakat dengan suatu karakteristik tertentu, ternyata memang dapat menghasilkan penilaian yang mengerucut pada sebuah kesimpulan yang akurat atau berlaku umum. Beberapa bisnis online yang mengadopsi kaidah The Wisdom of Crowds ini diantaranya adalah www.epinions.com, sebuah situs yang berisi kumpulan review atau testimoni dari konsumen berbagai jenis produk dan jasa yang tersedia di pasar.

Selanjutnya, adalah mengenai Peer Production.  Konsep membangun atau mengerjakan sebuah project secara bersama – sama. Contoh kasus yang diambil dalam kesempatan ini adalah program internet browser Mozilla Firefox. Kecanggihan dan kelengkapan fitur yang dimiliki oleh browser Firefox tidak terlepas dari peran serta para pengembang software yang juga pengguna Firefox.  Mereka secara antusias bersama – sama menambahkan berbagai fitur dalam bentuk add-on yang menyediakan berbagai fungsi umum sebuah browser. Fitur – fitur yang dibangun pada umumnya sangat mengena dengan kebutuhan para pengguna, karena pemilihan fitur itupun berdasarkan kebutuhan nyata para pengguna yang dalam hal ini tak lain tak bukan adalah para pengembang software itu.

Satu hal lain yang juga didiskusikan dalam kesempatan itu adalah, mengenai Prosumer. Pendekatan konsumen yang juga bertindak selaku produsen, memungkinkan mereka menggunakan produk yang dirancang dan diproduksi sesuai keinginan mereka. Contoh kasus dalam hal ini adalah perusahaan mainan ternama Lego, melalui fitur LEGO Factory di website mereka, yang memungkinkan orang untuk merancang model mainan sesuai dengan rancangan mereka sendiri, untuk kemudian dapat dibeli juga oleh para konsumen mereka.

Contoh – contoh perusahaan besar yang telah menerapkan konsep – konsep partisipatif lainnya dalam kesempatan presentasi ini adalah www.newsfutures.com; McDonald’s Global Casting; Nokia design competition dan JetBlue Airways Story Booth.

Di bagian akhir presentasi, juga saya perlihatkan beberapa dotcom ‘produk dalam negeri’ yang dibangun oleh Intimedia, yang juga mengusung konsep partisipatif. Di antaranya adalah Wikimu.com; VirtualVending.net dan Berapaberapa.com