Adrianto Gani

Sharing my thought, opinion and ideas

Adrianto Gani
Friday, May 16, 2008

Google Open Social, Era Baru Jejaring Sosial

Sudahkah anda bergabung di salah satu portal jejaring sosial (social networking) seperti MySpace atau LinkedIn atau Facebook ? Data diri anda dan teman – teman anda, serta  tautan dan rangkaian pertemanan yang terjalin itu, kini menjadi barang mahal dan berharga yang menjadi incaran para pelaku bisnis internet.

Pada tanggal 30 Oktober 2007 yang baru  lalu, Google secara resmi meluncurkan sebuah standar pemrograman atau API (Application Programming Interface) yang diberi nama Google Open Social. Standar ini memungkinkan pengembang software untuk membangun aplikasi yang di host dan dapat mengakses atau memanfaatkan data pribadi anggota dari beberapa portal jejaring sosial yang bergabung dalam project ini, seperti Orkut, Salesforce, LinkedIn, Ning, Hi5, Plaxo, Friendster, Viadeo dan Oracle.  Selain dapat mengakses data pribadi, standar pemrograman ini juga memungkinkan sebuah aplikasi memanfaatkan informasi tentang relasi antar satu individu dengan individu lainnya, tentang aktivitas atau perkembangan – perkembangan yang terjadi yang relevan dengan profile individu – individu tersebut.

Google bukan yang pertama. Sebelumnya, portal jejaring sosial yang sedang naik daun, Facebook.com juga mengeluarkan  apa yang disebut Facebook Platform. Standar pemrograman yang memungkinkan pengembang software untuk membangun aplikasi dengan mengakses data dan informasi dari individu – individu yang tergabung di dalam portal jaringan tersebut, atau yang mereka sebut sebagai Social Graph. Bedanya adalah, pengembang software harus menggunakan bahasa pemrograman yang khusus dikeluarkan oleh Facebook, dan aplikasi yang dihasilkan hanya dapat di host di Facebook. Sementara dengan Open Social, aplikasi yang dapat dibangung menggunakan javascript dan HTML ini dapat di host di berbagai portal yang turut berpartisipasi.

Apa yang ditawarkan oleh Facebook.com dengan platform developmentnya itu memang terbukti menarik minat banyak orang untuk mengunjungi dan berinteraksi di portal tersebut. Misalnya, bagaimana orang – orang menjadi antusias melihat siapa saja yang memiliki minat yang samat tentang jenis atau judul film. Kemudian, dari informasi tentang “kesamaan” dan “ketidaksamaan” itu, mereka bisa kemudian menganalisa data pribadi – pribadi orang lain, dan seterusnya.  

Semakin menarik membayangkan apa yang dapat dilakukan dalam sebuah portal jejaring sosial. Tak cuma  sekedar berbagi kata dan cerita, kini bergabung dalam portal jejaring sosial juga berarti berinteraksi dan berkomunikasi secara lebih interaktif dengan rekan – rekan di manapun mereka berada. Tak heran, perang memperebutkan data diri dan dan data relasi antar individu kini menjadi sesuatu yang serius dan melibatkan para pebisnis online dan software raksasa.
Google sempat “kecolongan” dengan kesepakatan senilai 240 juta dolar Amerika yang dibuat antara Microsoft dan Facebook, yang menjadikan Microsoft sebagai pemegang hak beriklan di Facebook.com sekaligus memberikan kepemilikan portal jejaring sosial ini kepada konglomerat software itu sebesar 1,6%. Memang, Facebook saat ini dapat dikatakan menjadi the raising star dengan popularitas yang terus menjulang, dengan 73,5 juta unique visitor selama bulan September 2007, Facebook saat ini telah menjelma menjadi perusahaan bernilai 1,5 miliar dolar Amerika. Sebagai perusahaan dengan fokus iklan berbasis internet, Google tentu sangat menginginkan untuk dapat memiliki pula hak beriklan di Facebook yang diyakini dapat menjadi lahan subur bagi para pemasang iklan.

Kita lihat saja, apakah Google dengan para portal pendukung Open Social dapat menandingi Facebook yang didukung oleh Microsoft. Kita lihat saja bagaimana perang perebutan kue iklan di internet ini akan berkembang ke mana lagi setelah ini. Dan kita, sebagai individu – individu yang datanya sangat diinginkan oleh para pebisnis ini silakan saja menikmati berbagai fasilitas dan kegairahan ber-network ria melalui berbagai portal jejaring sosial.

Pesta Blogger, Kopdar Akbar Para Blogger

Hari Sabtu, 27 Oktober 2007 yang lalu, saya berkesempatan hadir dan menjadi salah seorang dari sekitar 500an peserta Pesta Blogger 2007. Acara yang diselenggarakan di dalam sebuah ruang teater bioskop ini, memang mampu menarik minat para blogger, atau mereka yang berminat dalam kegiatan blogging.
Untuk sebuah event yang mampu menarik jumlah pengunjung hingga 500 orang, event ini memang terasa cukup unik. Viral marketing saya yakini benar – benar bekerja selama beberapa minggu menjelang hari H. Para blogger, yang notabene memang para pewarta, secara simultan dan berjenjang terus menerus menyiarkan kegairahan acara ini. Entah apakah penyelenggara masih mengeluarkan biaya untuk kegiatan marketing pesta ini. Apalagi, beberapa media mainstream juga merupakan mitra yang mensponsori event ini. Dan mudah ditebak, jumlah peminat dan kapasitas tempat acara tidak imbang, hingga di hari – hari akhir menjelang hari H, pembicaraan justru lebih banyak seputar prosedur pendaftaran dan cara – cara alternative mendapat tempat.  
Pada hari pelaksanaan, kejutan - kejutan Menkominfo Muhammad Nuh, dengan mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional dan pemberian sebuah laptop untuk pemenang blog terbaik dari yang terbaik, walaupun sangat menyemangati, tentu bukan yang terpenting. Kesempatan bertemu dan saling berbagi, adalah yang paling saya rasakan bermanfaat dari acara kopdar akbar ini. Format acara, yang memang sudah seharusnya, cair dan casual sungguh tepat diterapkan. Untunglah, porsi formal dan basa – basi serta satu arah hampir tidak terasa dalam acara kemarin.
Memang, untuk acara dengan jumlah peserta besar dalam tempo 4 jam, yang terpenting adalah bagaimana sebanyak mungkin peserta memperoleh pengalaman sebanyak – banyaknya. Dan saya kira, untuk hal ini Pesta Blogger kemarin cukup berhasil menyediakannya. Soal kualitas peserta, memang masih sangat beragam. Walaupun acara ini dikasih label acaranya para blogger, toh beberapa yang saya jumpai di acara itu mengaku masih belum memulai menulis blognya. Tak apa, karena memang untuk itulah mereka hadir, supaya lebih diberanikan lagi untuk segera memulai petualangan blogging mereka.
Untuk para penggagas acara, panitia pelaksana dan semua yang sudah menunjukkan passion yang luar biasa dalam mensukseskan acara ini, salut untuk anda semua. Semoga, pengalaman pertama ini semakin memberikan keyakinan dan kemauan serta kesadaran akan perlunya eksistensi mereka di industri yang baru cikal bakal ini menjadi sebuah industri yang sungguh – sungguh disegani.
Selamat untuk hasil dari kerja keras anda semua!

Blogging Dalam Komunitas

Dalam acara Pesta Blogger 2007 yang lalu, dari sekian ratus blogger yang hadir mengikuti acara tersebut, beberapa datang dan tergabung dalam beberapa komunitas yang mengusung ciri dan minat tertentu yang khas. Sebut saja di antaranya adalah komunitas Bunderan HI, AngingMammiri dari Makasar, Angkringan dan Cah Andong dari Yogya, Go Ranah Minang dari Padang, dan masih banyak yang lainnya.

Tidak sulit tentunya memahami munculnya komunitas – komunitas dengan basis homogenitas seperti ini. Rasa kedaerahan, solidaritas, kesamaan minat dan antusiasme komunal lainnya tentu menjadi sebuah daya tarik tersendiri buat seseorang untuk bergabung di dalamnya. Tak terkecuali para blogger.

Walaupun tidak sebebas dan seleluasa kalau blogging di “rumah sendiri”, blogging dalam satu komunitas tertentu juga memiliki keasyikan tersendiri. Opini dan pesan yang ingin tersampaikan melalui blogging lebih langsung tersampaikan, paling tidak pada sesama anggota komunitas. Dibandingkan harus menunggu pengunjung yang hadir di website kita, seandainya kita punya blog website sendiri. Hal ini terutama untuk para pemula dan blogger dengan intensitas blogging yang tidak terlalu tinggi. Tentu saja, karena ini bukan rumah kita sendiri, kita juga harus lebih mawas diri. Jaga sopan santun dan tutur kata. Toleransi dan tenggang rasa dengan anggota lain.

Namun yang terpenting sebenarnya, dengan kita menjadi bagian dari sebuah komunitas, atau bagian dari sebuah jejaring sosial, kita juga akan semakin diperkaya. Melalui komunikasi dan interaksi, pandangan dan wawasan, opini dan pengalaman yang dibagikan oleh orang – orang lain di sekitar kita.

Buah pikiran atau opini, sharing cerita dan pengalaman kita akan tetap memiliki makna yang mendalam. Figur dan sosok kita akan tetap dapat “terlihat” bahkan menonjol, walaupun kita blogging di antara sekelompok orang. Karena sesungguhnya, yang terpenting bukanlah alamat website blog kita, apalagi teknologi yang digunakan, tetapi yang terpenting adalah apa yang kita sampaikan melalui blogging tentu saja.

Selamat terus nge-blog!