Yang membuat menjadi menyenangkan dan bergairah bukan hanya karena film – film top box office yang makin hebat dan seru. Tapi justru experience atau pengalaman bertransaksi pinjam meminjam film itu yang membuat masyarakat Amerika sekarang makin keranjingan nonton DVD.
Beberapa tahun yang lalu, bisnis rental DVD yang bernama Netflix, yang mengandalkan sistem peminjaman DVD dikirim via pos, membuat gebrakan dan sukses luar biasa. Habit baru menikmati film – film top box office via DVD dengan sistem pre-paid untuk kurun waktu tertentu dan mendaftarkan film – film ke dalam wish list sebanyak yang mereka mampu tonton tanpa harus mengunjungi toko penyewaan, benar – benar membuat orang Amerika menghabiskan waktu lebih banyak di depan TV dan DVD player mereka.
Tak heran, terobosan bisnis Netflix yang juga disoroti oleh Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail, mampu menggoyahkan raksasa bisnis penyewaan film Blockbuster, bisnis penyewaan film yang mengandalkan chain store mereka yang tersebar di seluruh Amerika. Efisiensi dari ketiadaan jaringan toko secara fisik, dimanfaatkan oleh Netflix. Memanfaatkan jaringan internet dan pelayanan pos, Netflix secara jitu dengan menawarkan berbagai kenyamanan dan penghematan biaya sewa kepada para pelanggannya secara sangat atraktif. 1- 0 untuk Netflix.
Namun, apa yang terjadi saat ini sangat menarik dan mengagumkan buat saya. Blockbuster kemudian strike back dan memukul Netflix justru kembali dengan mengandalkan jaringan toko yang tesebar luas. Kali ini, janji kenyamanan yang ditawarkan adalah, pelanggan tidak perlu menunggu DVD yang diinginkan tiba melalui pos, setelah mengirimkan kembali film yang sudah selesai anda tonton. Tetapi mereka bisa mengembalikannya ke toko Blockbuster terdekat manapun, langsung setelah mereka selesai melihat film tersebut, untuk kemudian secara otomatis hari berikutnya, film berikutnya yang ada dalam wish list mereka tiba di rumah via pos. Sehingga, dalam kurun waktu tertentu, dengan biaya pre-paid yang sama, mereka memiliki kesempatan meminjam DVD lebih banyak dibandingkan Netflix. Sebagai akibat efisiensi waktu yang terjadi dari pengembalian kembali DVD yang sudah selesai ditonton.
Masyarakat Amerika pun tergiur, mereka sibuk membicarakan dan membandingkan keunggulan Netflix versus Blockbuster. Dan sesuai perkiraan, merekapun kembali berbondong – bondong menjadi pelanggan Blockbuster, dan memadukan habit antara mendapatkan DVD via pos dan mengembalikan DVD ke toko rental. Skor jadi 1-1 untuk Blockbuster dan Netflix.
Luar biasa. Dengan mengandalkan teknologi dan management penjualan dan pelanggan yang rapi, jaringan toko Blockbuster dapat online, layaknya ATM. Sehingga apa yang semula menjadi penghalang efisiensi kembali menjadi senjata andalan dalam menawarkan bisnis model yang kompetitif. Semua orang sedang menunggu langkah inovatif apalagi yang akan dilancarkan oleh Netflix, atau mereka akan perlahan – perlahan mengecil dan tersingkir dari arena pertempuran bisnis penyewaan DVD ini.
Kita harus dapat belajar dan memetik pelajaran yang terkandung dari perang Netflix dan Blockbuster ini. Bagaimana berpikir out of the box dan keluar dari tekanan pesaing, untuk kembali menguasai pangsa pasar yang terenggut secara tiba – tiba. Memanfaatkan apa yang kita miliki saat ini, dan tentu saja kemajuan teknologi yang tepat guna dan tepat sasaran.
Sungguh menarik mendengar mereka bilang, “mau ambil mail dulu di mailbox, mungkin flim Blockbuster hari ini datang”. Film dalam mailbox bukan lagi kejadian di email, tapi juga di kotak pos beneran yang keras dan terbuat dari besi itu.

